Saturday, June 25, 2016

mencari Lailatur Qadar

bermula dalam doa
menulis mimpi dalam kata
bermunajat rapuh pilu
mentafsir sisa dosa tersisih
pada malam Lailatur Qadar


izinkan daku mencuri rindu
melakar duka yang terlena
basah dalam sisa rapuh 
gundah tiada penghujung
mencari dan terus mencari
mengharap cahaya tersisa
pada berkatnya malam itu

ku cuba dan ku cuba
meraung tutur kata simpati
meniti dalam lantai-lantai kelam
hilang rasa khuatir
pada sangka yang terluka
rindunya seorang kasih hamba
antara hidup dan mati
bersujud ditepi malam yang sepi
berharap dan terus berharap
doa terbuka hijab
pada rahmat yang dicari
Lailatur Qadar

Tuesday, May 31, 2016

ku bawa rindu ayah

telah lama kubawa rindu ini
berbicara pada dendam luka
menjahit erti kenangan duka
mencuba mengerti 
melayan sepi-sepi keliru
pada erti kasih
ku bawa rindu ayah

hari itu
pernah menjanjikan kenangan
menanti bicara suka-duka 
adakah sepi itu resah
terhina pada rasa khuatir
mendamba rasa kasih
terbawa ke alam rindu gelisah
menyentuh hati kecil tua terluka
pada sisa-sisa senja berlabuh
untuk mu 
ku bawa rindu ayah

semalam
mimpiku kelam
mentafsir duka-duka lalu
air mata mula sepi
tiada lagi jasad tua tersenyum duka
merindukan sisa kenangan
terlupa dan tak akan dilupakan
pada erti kasih
selamanya
ku bawa rindu mu ayah


sudah-sudahlah

sudah-sudahlah
mengguris hati yang luka
menjajah jiwa yang sepi
mencarik duka-duka lara
sudah-sudahlah

aku masih ingat
sakit kata-kata itu
bersangka-sangka dusta
menyisihkan kasih saudara
pada kemaruk harta dunia
sudah-sudahlah

sebenarnya apa yang kau mahu
menabur benih-benih fitnah
menyakitkan hati saudara
mendustakan hinanya diri
pada jiwa-jiwa yang tidak mengerti
kasihan sungguh
menghina dan terhina
benci yang tak sudah-sudah
sudah-sudahlah

sudah-sudahlah
akan kubawa kenangan itu
sampai ke mati
sudah-sudahlah


Saturday, May 21, 2016

rinduku pada ayah

ayah...
aku amat merinduimu
acap-kali kubawa dalam doa-doa sepi
terkadang-kala membuat kelam gundah
terjahit dalam dendam rindu
aku rindukan ayah..

"RINDUKU PADA AYAH"

disini
ada resah gelisah sepi
ada rindu gundah
mencari kasih mendamba cinta
pada kata-kata yang pernah terluah
pada semangat-semangat doa
pada sisa-sisa kenangan
rindu seorang ayah

disini
hampir sesaat rinduku kekal hadir
terkadang mengusik duka
kadang-kala mencarik sedih
kadang-kadang membuat aku lupa
pada sisa rindu yang berterabur
rindu seorang ayah

disini
hanya tinggal tanda kenangan 
pada kasih dendam rindu
pada doa mu yang terbuka hijab
pada cinta mu yang tulus ikhlas
selamanya
kami merindui mu...ayah

bila sedang diuji

bila sedang diuji
kau jaga hati kecilmu
kau jaga sangka-sangka baikmu
kau jaga resah jiwamu
kerna
Allah sayangkan mu
bila sedang diuji...

bila sedang diuji
jangan kecewa membawa gundah
jangan ribut berduka lara
jangan kelam-kelam derita
kerana
Allah ada bersama mu
bila sedang diuji...

bila sedang diuji
padamkan nafsu-nafsu amarah mu
padamkan rasa-rasa khuatir mu
padamkan durja benci celaka mu
kerna
Allah menduga kasih mu
bila sedang diuji...

bila sedang diuji
lakarkan rasa cekal dalam jiwa mu
lakarkan doa-doa sepi gelisah
lakarkan belas kasih yang pernah ada
kerana
Allah pasti membantu mu
bila sedang diuji...

bila sedang diuji
jangan mudah patah semangat
jangan mudah rebah resah keliru
jangan mudah kecewa lara
kerna
Allah Maha Belas Kasih
pada redha sabar mu 
disaat sisa-sisa air mata mu mengalir...
kau pasti akan bahagia
kerana
bantuan Allah akan tiba

bila sedang diuji



aku suka kamu

aku suka kamu
terus terang aku katakan
aku sukakan kamu

aku suka kamu
setulus kata hati
pada rasa sayang yang terukir
pada rasa cinta yang ikhlas
benar seadanya
aku suka kamu

aku suka kamu
sepenuh jiwa
terpahat dalam setiap sendi rindu
tertulis indah pada kelip bintang sepi
sepenuh jiwa hati
aku amat sukakan kamu

aku suka kamu
selamanya
maafkan aku

mengapa pecahkan bangsa


 mengapa pecahkan bangsa
mengukir kemaruk duri dusta
melukis rasa bangga
mencarik mimpi kelam keliru
sombong mentafsir kata
sungguh hebatkah diri

mengapa pecahkan bangsa
menabur menjajah penuh dendam
ketawa mengguris luka
teraniaya dalam usia duka
dengki khianat
pada jalan-jalan yang terjajah
sungguh kasihan...

mengapa pecahkan bangsa
berselindung dalam kesumat benci
penuh kepura-puraan 
dalam watak tinta yang tercalar
menabur jasa mengungkit kisah
bangga pada kaki-kaki kuasa
kemaruk sungguh

mengapa pecahkan bangsa
mengkhianati janji amanah
menabur benih luka-luka keliru
pada rasa ego
pada rasa hebat
menari berdendang duka
tersungkur di usia senja
kasihan sungguh...

mengapa pecahkan bangsa
menulis aib-aib saudara
bercerita bersangka-sangka
mengadu pada sang pencacai
berbangga-bangga dusta
gilakan kuasa
menghasut terhasut lara
pada sisa-sisa mimpi dunia
amat kasihan

mengapa
memecahkan bangsa...
tunggu balasan Allah